Kamis, 03 Juni 2010


Bila Anda menyukai petualangan, alangkah tepatnya pilihan berwisata ke Kawah Ratu, yang terletak di Gunung Salak. Anda akan mendapati suatu keindahan alam yang sulit dikatakan.

Kawah Ratu adalah salah satu dari berbagai obyek wisata alam yang dimiliki Gunung Salak. Kawah Ratu yang terletak pada ketinggian 1.338 meter di atas permukaan laut ini memang menawarkan kesejukan hawa dingin yang menyegarkan. Suhu yang berkisar antara 10-24 derajat Celcius selalu membuat udara dingin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari suasana alamnya. Apalagi bila sore hari maka hujan cukup sering turun. .

Di kawasan yang memiliki luas sekitar 30 hektar ini, sebenarnya ada 2 kawah lain selain Kawah Ratu: Kawah Mati I dan Kawah Mati II. Dinamakan demikian karena kedua kawah itu sudah tidak aktif lagi. Kawah-kawah ini memiliki ketinggian yang hampir sama: Kawah Mati I, terletak di utara Kawah Ratu, ketinggiannya sekitar 1.330 meter; sedangkan Kawah Mati II, yang berlokasi di bagian selatan, sekitar 1.335 meter.

Terletak di sebelah utara Kota Bogor, keberadaan kawah-kawah ini sudah tak asing lagi bagi warga Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Bahkan sejumlah turis dari luar negeri juga tertarik untuk mengunjunginya. Tujuannya beragam, dari sekedar berekreasi menikmati indahnya alam hingga untuk keperluan pengobatan.

Keindahan Kawah Ratu memang merupakan keindahan yang langka, karena asli merupakan keindahan alam yang luar biasa.

Daya tarik Kawah Ratu terletak pada aktivitas geologinya dimana sepanjang hari kepundannya selalu mendidih dan mengeluarkan gas asam sulfida (H2S) dengan baunya yang menyengat. Dan kadangkala, kawah ini mengeluarkan suara gemuruh akibat semburan uap air panas yang membentuk kabut.

Daya tarik lainnya adalah adanya aliran Sungai Cikuluwung yang melintasi kawah sepanjang satu kilometer ini juga menawarkan pemandangan lain. Air yang begitu bening membuat dasar sungai tampak jelas. Warna kuning kehijauan akibat endapan belerang membuat dasar sungai Cikuluwung begitu indah dinikmati. Tidak saja keindahan sungai ini yang menjadi daya tarik, tetapi suhunya yang hangat. Banyak pengunjung memilih untuk berendam dalam air sungai sedalam 50 cm yang mengandung asam sulfida ini, yang diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit kulit.

Hulu sungai Cikaluwung terletak di wilayah Gunung Sumbel. Alirannya mengalir hingga sejauh delapan kilometer ke arah barat daya. Curug Seribu, yang menjadi salah satu obyek wisata alam di kawasan Gunung Salak, aliran airnya berasal dari sungai Cikaluwung ini. Lebar sungai ini bervariasi, antara tiga hingga tujuh meter.

Meskipun Kawah Ratu ini masih aktif, tapi tak mengganggu kehidupan vegetasi tanaman di kawasan itu. Beberapa jenis tumbuhan masih dapat hidup, di antaranya adalah tanaman Romogiling (Sceferra actinophylla). Ujung daunnya berbentuk agak bulat. Vegetasi ini merupakan tanaman yang dominan menghiasi kawah. Sedangkan beberapa pohon berkayu lainnya tampak mati akibat hangus terbakar oleh aktivitas kawah. Dan sebagai bagian dari kawasan hutan alam Gunung Salak, Kawah Ratu pun tergolong sebagai hutan heterogen. Sehingga kesejukan udara alamnya sangat terasa.

Berjalan Kaki Mencapai Kawah Ratu

Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Ada tiga jalur yang bisa dilalui untuk dapat mencapai kawasan Kawah Ratu. Dua jalur dapat ditempuh dari Kabupaten Bogor yang terletak di sebelah utara Gunung Salak, yaitu Pasir Reungit dan Bumi Perkemahan Gunung Bunder. Sedangkan jalur lainnya dapat ditempuh melalui Bumi Perkemahan Cangkuang, Cidahu, Kabupaten Sukabumi, di sebelah selatan Gunung Salak.

Untuk masuk dari Kabupaten Bogor, Anda dapat manempuhnya dari Simpang Cibatok. Selanjutnya Anda dapat naik angkutan umum yang siap mengantar Anda sampai ke Pasir Reungit atau Gunung Bunder. Sedangkan, jika Anda ingin menuju Cidahu dengan kendaraan umum, Anda dapat berhenti di Simpang Cidahu. Dari sana Anda dapat naik angkutan umum sampai terminal, dan melanjutkan perjalanan ke Bumi Perkemahan Cangkuang dengan jasa ojek.

Pada jalur pertama, melalui Pasir Reungit, jarak dan waktu tempuhnya tak seberat melalui Gunung Bunder atau Cidahu. Jarak antara Pasir Reungit-Kawah Ratu sekitar empat kilometer dan dapat ditempuh jalan kaki selama dua jam. Sementara, melalui jalur Gunung Bunder dan Cidahu, jarak yang harus ditempuh sejauh enam kilometer dengan waktu tempuh selama tiga jam jalan kaki.

Bila Anda adalah orang yang menyukai petualangan alam, jalur Cidahu mungkin adalah yang terbaik. Pasalnya, sambil naik-turun lembah, Anda dapat menikmati indahnya alam pegunungan di kawasan ini. Beberapa lintasannya bahkan akan memaksa Anda untuk menaiki akar-akar yang menjurai di jalan setapak yang lebarnya hanya semeter ini. Namun, dengan beratnya trek yang dilalui, ternyata tempat ini sangat memberikan keindahan suasana hutan Gunung Salak yang begitu indah.

Di sini Anda akan banyak menemui aliran-aliran sungai yang terkadang airnya menggenangi trek yang Anda lalui. Kicau burung, denyit serangga, dan suara monyet hutan, masih kerap terdengar, bila Anda memilih jalur Cidahu ini. Sementara, jalur Gunung Bunder pada prinsipnya hampir sama dengan jalur yang dilalui melalui Pasir Reungit. Sebab pada kilometer ketiga dari Gunung Bunder, jalur ini akan bertemu di persimpangan jalur Pasir Reungit.

Berhati-hatilah terhadap pacet. Sebab, seperti layaknya kawasan wisata alam Gunung Salak, kawasan Kawah Ratu ini juga menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan jenis lintah yang seringkali menempel ke bagian tubuh Anda ini. Jika tidak selalu rutin memeriksa tubuh, tak mustahil Anda bakal jadi sasaran pacet-pacet yang menempel dan menghisap darah. Untuk itu, ada baiknya Anda membawa tembakau untuk mengatasi serangan pacet ini.

Senin, 31 Mei 2010

Goa terbesar di dunia


Penduduk takut mendekati goa itu, apalagi masuk di dalamnya. Karena dari dalam goa muncul suara-suara aneh, seperti siulan yang membuat bulu kuduk merinding. Kepercayaan pada hal-hal gaib terkadang menjadi penghalang penemuan besar yang telah ada di depan mata. Mereka tidak berani menjejakkan kaki ke Goa karena dari sana kerap terdengar suara-suara aneh. Penduduk mengganggap goa itu angker. Mereka tak sadar kalau Son Doong Cave menyimpan suatu yang berharga bagi ilmu pengetahuan.

Sampai akhirnya tahun lalu, sekelompok ilmuwan Inggris mengungkap "harta terpendam" . Para peneliti mendatangi gua untuk observasi. Betapa terkejutnya mereka, ternyata goa itu maha luas. Goa ini ternyata lima kali lebih luas dari goa terbesar di Vietnam, Phong Nha, bahkan setelah diukur, luasnya jauh lebih besar dari goa terbesar di dunia, Deer di Malaysia.

Panjang ruang terbesar di Son Doong mencapai 5 km, tinggi 200 meter dan leba5 150 meter. Dengan pengukuran ini, maka otomatis Son Dong merupakan gua terbesar di dunia, mengalahkan Deer Cave, yang sebelumnya memegang rekor goa terbesar di dunia. Panjang Deer Cave hanya 2 km, tinggi 100 meter dan lebar 90 meter.

Sebenarnya para ilmuwan Inggris ini bukanlah yang pertama menemukan goa raksasa itu. Adalah penduduk setempat yakni, Hồ-Khanh yang menemukannya pada 1991. Dia telah memberi tahu soal penemuan itu, tapi tidak ada yang berani datang ke sana karena siulan-siulan aneh yang muncul dari dalam.

Tapi tim peneliti Inggris dari British Cave Research Association itu, berhasil menguak suara-suara aneh yang selama ini ditakuti penduduk. Menurut mereka siulan aneh itu berasal dari angin juga sungai bawah tanah yang airnya sangat deras sehingga menggemakan suara-suara aneh itu.

Son Doong Cave persisnya terletak di Phong Nha-Ke Bang National Park, Bo Trach Kabupaten, Provinsi Quang Binh, Vietnam. Lokasinya dekat perbatasan Laos-Vietnam. Untuk mencapai goa, menurut Limbrit Howard, pemimpin ekspedisi itu, sangat sulit.

Dari HCM City Highway, mereka harus berjalan selama enam jam, lalu melewati hutan kira-kira 8-10km. Survei di dalam goa ini belum sepenuhnya selesai, karena bisa jadi panjangnya lebih dari 5 km seperti yang diukur sementara ini. Ada bagian yang belum berhasil ditembus tim peneliti ini. Jadi mereka akan kembali untuk melengkapi survey.

Setelah penemuan spektakuler itu, tim ekspedisi Inggris ini, mulai meneliti sekitar pegunungan barat provinsi Quang Binh, ternyata hasilnya luar biasa. Dalam satu bulan eksedisi merea, ditemukan 20 goa lagi dengan demikian di Phong Nha –Ke Bang National Park, terdapat 150 goa.Hasil yang luar biasa dan ini sudah dilaporkan pada pemerintah setempat.

Edelweis Bunga Abadi


Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.

Katanya, edelwis merupakan perlambang cinta yang penuh ketulusan mengingat tekstur yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih (walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan).

Edelweis juga melambangkan pengorbanan. Karena bunga ini hanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi sehingga untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat berat. Ditambah lagi dengan adanya larangan membawa pulang bunga ini, pemetik harus main petak umpet dengan petugas Jagawana. Dan jika kedapatan memetik bunga ini bisa-bisa seperti kata orang yang terpaksa harus balik lagi ke puncak gunung malam-malam ketika ketahuan mengambil bunga ini di Gunung gede. Mungkin dia lagi apes makanya ketahuan.

Yang paling dasyat , meskipun dipetik bunga ini tidak akan berubah bentuk dan warnanya, selama disimpan di tempat yang kering dengan suhu ruangan. Karenanya, lanjut Suzie dengan antusias, edelweis adalah bunga keabadian. Bunga yang membuat cinta akan tetap abadi, tergantung.

Gara - gara hal ini telah membuat edelweis sebagai bunga langka bahkan terancam kepunahan. Padahal Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

Kini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diklaim sebagai tempat perlindungan terakhir bunga abadi ini. Di sini terdapat hamparan bunga edelweis yang tumbuh subur di alun-alun Suryakencana sebuah lapangan seluas 50 hektar di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut.